Thursday, December 5, 2013

Untuk Sekali Ini dan Selamanya

Aku menatapnya lurus-lurus, bertanya dalam hati, mengapa dia butuh waktu lama untuk mencerna isi tulisan yang aku berikan kepadanya. Apakah mungkin bahasaku terlalu sulit dipahami, ataukah permintaanku terlalu sulit untuk dipenuhi.
Aku tak lagi menatap wajahnya, kini pandanganku beralih ke lengannya yang berhiaskan bilur-bilur biru. Kemudian perlahan aku kembali menatap wajahnya, yang juga ternyata berhiaskan hal yang sama seperti lengannya, meski jauh lebih sedikit.
Karina menyadari sapuan tatapanku dan kemudian berusaha menutupi hal-hal yang menurutnya bukan urusanku, meski dapat kukatakan usahanya sangat sia-sia mengingat jenis pakaian yang ia pakai hari ini.

“Seperti biasa Sal, pandangan kamu mengobservasi.”
“Aku lebih suka disebut ingin tahu, Karin.”
Aku melihat kertas yang sedari tadi ia baca sudah kembali terlipat di tangan kirinya, dan tangan kanannya otomatis memainkan gelas minumannya.
“Semalam, waktu kamu meneleponku…”
“Faisal, meneleponmu semalam adalah kesalahan” Karina memotong kalimatku.
Aku hanya terdiam.
“Dan kesalahan itu diperburuk dengan kedatangan kamu kerumahku setelahnya” dan kemudian Karin melanjutkan hanya dengan sekali tarikan napas. “Rumahku, Sal! Apa yang kamu pikirkan?!”
Aku menghela napas. Karina memandang berkeliling dengan ekspresi tidak percaya.
“Karin, mungkin aku memang tidak sebaik…”
“Cukup Sal! Aku harus menjemput anak-anak pulang sekolah!” potong Karina. “Dan aku harap kita tidak bertemu kembali”
Untuk kesekian kalinya Karina memunggungiku, meninggalkanku. Dia tidak pernah berhenti untuk mendengar, selalu seperti itu. Dan aku, aku tidak pernah berhenti untuk berusaha didengar, selalu seperti ini. Meski pada akhirnya Karina akan kembali memanggil namaku, meneleponku, dan berkeluh kesah mengenai kehidupannya.
Perlahan aku menarik kertas yang ditinggalkan Karina, dan membaca isinya. Hasil karyaku, ungkapan hatiku, yang aku tuangkan dalam tulisan, kurang dari lima menit, setelah Karina meneleponku sambil menangis semalam, dan menceritakan bahwa suaminya kembali memukulnya, berkali-kali.
Aku tak tahan mendengar tangismu.. Karena ku terbiasa dengan senyummu..
Aku tak tahan melihat air matamu.. Karena aku terbiasa dengan ceriamu..
Meski ku tahu tangis adalah bagian dari hidup..
Meski aku tahu airmata pun bagian dari hidup..
Tapi untuk sekali ini dan selamanya..
Izinkan aku hidup dengan senyummu.. Karena aku akan berusaha semampuku untuk buatmu selalu tersenyum..
Izinkan aku hidup dengan ceriamu.. Karena ku akan menjadi diriku yang mencintaimu sepenuh hati..
Yang menyayangimu selamanya.. Bersama ceriaku untukmu..
Izinkan aku hidup denganmu.. Untuk menghapus tangismu di kala aku membuatmu bersedih..
Izinkan aku hidup denganmu.. Untuk menyeka air mata dari wajahmu di kala aku membuatmu menangis..
Izinkan aku hidup denganmu..
Karena ceria dan senyummu adalah bahagiaku..
Karena air matamu adalah tangisku..
Karena hidupmu adalah hidupku..
Karena cintaku milikmu selamanya..

No comments:

Post a Comment